PENJAJAHAN PEMIKIRAN BARAT DALAM BIDANG PENDIDIKAN
24/03/2007
OLEH : DR. H. KASMURI SELAMAT, MA.
DIMUAT OLEH : ADMINISTRATOR
Firman Allah SWT: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani selamanya tidak akan merasa senang kepadamu sehingga kamu mengikuti millah
(pola hidup/agama) mereka, jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka (konsep dan pemikiran yang bertentang dengan Islam)
setelah datang kepadamu ilmu, maka Allah swt tidak akan menjadi wali dan tidak pula penolongmu."(QS. 2: 120)
Pendahuluan.
Benturan antara dunia Islam dengan dunia Barat dalam bentuk konfrontasi dan konflik tidak berakhir dalam medan perang
salib. Ternyata Barat masih menyimpan dendam yang sangat mendalam bahkan tidak kunjung padam. Semangat berkobar semula
pada abad ke enam belas Masehi. Diawali dengan kekuasaan Portugis dan Belanda, maka satu demi satu kuasa-kuasa Eropa
mengharungi lautan lepas untuk menanamkan pengaruh serta kekuasaan mereka di Asia dan Afrika. Perlombaan dan persaingan
hebat di kalangan negara-negara Barat mencapai puncaknya selepas pertengahan abad sembilan belas Masehi, sehingga satu
demi satu negara-negara Muslim masuk dalam cengkeraman penjajah. Arnold J. Tynbee di dalam hal ini mengungkapkan:
"Karena Barat telah berhasil menakluki lautan, maka sebelum akhir abad ke enam belas Barat telah berhasil melemparkan
jerat ke leher Islam, tetapi hanya setelah abad ke sembilan belas sajalah baru Barat menarik jerat tersebut
dengan kuatnya".
Realitas Penjajahan.
Tiga selogan yang dipakai oleh Portugis ketika mereka datang ke Timur yaitu G: Gold, Gospal and Glory (Kekayaan,
keagamaan dan keagungan. Salah satunya muncul kepermukaan motif keagamaan yaitu memunculkan semangat salibiyah yang
pelaksanaannya lebih meluas. Mereka berusaha keras untuk mengkristenkan anak-anak pribumi, seperti yang dialami oleh
bangsa Indonesia pada masa penjajahan, di mana pihak penjajah berusaha untuk mewesternisasikan bangsa ini dan dilengkapi
dengan Kristenisasi. Hal terbukti dari ungkapan Mangles: "Takdir telah menyerahkan kepada England empayar Hindustan
yang luas supaya panji-panji Kristen dapat dikibarkan dengan megahnya dari satu penjuru India ke penjuru lainnya.
Setiap orang mesti bekerja keras dan jangan ada sifat lalai dalam usaha besar untuk menjadikan semua penduduk India
itu Kristen".
Selepas Perang Dunia Kedua, kuasa Barat terpaksa melepaskan jerat yang diikatkannya ke leher negara-negara jajahan,
termasuk leher negara-negara Islam. Walaupun mereka terlepas daripada belenggu politik atau perhambaan politik,
namun tidaklah berarti mencapai kemerdekaan seutuhnya. Sebenarnya masih ada lagi belenggu-belenggu lain yang
tetap mengikat negara-negara tersebut, seperti pendominasian budaya dan pemikiran. Permasalahan pokok yang dihadapi
oleh umat Islam pada masa sekarang ini adalah penjajahan dalam bidang pemikiran yang merupakan kesan sampingan dari
penjajahan politik, sosial atau ekonomi. Ini juga merupakan rencana yang telah disusun penjajah dengan membina
pusat-pusat pengajian khusus di daerah bekas jajahannya di Paris, Perguruan Tinggi yang mengkaji tentang masalah
ketimuran di London dan kota lainnya di Eropa untuk mengkaji serta memikirkan starategi-strategi serta cara-cara
untuk membawa negara-negara bekas jajahannya ke bawah dominasi budaya dan intelektuil (Cultural and Intellectual
Slavery). Apa yang ingin dilahirkan dalam diri serta pemikiran manusia-manusia sebagai penduduk di negara-negara
bekas jajahannya itu ialah acuan pemikiran yang senantiasa berpedoman kepada pemikiran Barat.
Penjajahan Pemikiran Melalui Dunia Pendidikan.
Penjajahan mendatangkan akibat berupa berbagai macam kerusakan baik bersipat fisik maupun aspek-aspek mental yaitu
pemikiran, kerohanian, tradisi dan lainnya. Ibn Khaldun menjelaskan sifat dari manusia yang terjajah sebagai berikut:
"Bangsa yang terjajah umumnya meniru dari penjajah seperti cara berpakaian, lambang-lambang dan berbagai adat istiadat
mereka. Hal ini terjadi karena manusia terjajah sering menganggap bahwa bangsa yang menjajahnya itu perkasa dan sempurna.
Manusia berbuat demikian karena kagum atau justru enggan menerima hakikat bahwa kekalahan mereka adalah sebab-sebab biasa
dan di samping itu pula mereka mengagung-agungkan keperkasaan penjajah. Jika anggapan ini berkekalan, maka ia akan berubah
menjadi keyakinan yang teguh. Akibatnya mereka akan menrima prinsip-prinsip serta meniru ciri-ciri penjajah. Hal ini
berlaku tanpa disadari atau disebabkan dari anggapan yang salah bahwa penjajah mencapai kemenangan bukan karena persatuan
serta kekuatan fisik, tetapi akibat dari kemunduran kepercayaan dan adat istiadat mereka (bangsa yang dijajah). Mereka
yakin jika mereka meniru penjajah dalam segala aspek, sudah pasti sebab-sebab kekalahan yang dialami akan dapat
dihapuskan".
Apa yang dikatakan oleh Ibn Khaldun itu menunjukkan bahwa sifat dari manusia yang dijajah itu di antaranya: Mereka merasa
silau melihat cahaya kebudayaan penjajah dan kagum dengan keperkasaan mereka. Sehingga akhirnya mereka merasa kerdil,
rendah dan hina. Inilah di antara hakikat perasaan rendah diri yang merong-rong jiwa mereka. Sebaliknya mereka meletakkan
penjajah itu ditempat yang tinggi dan agung.
Pada akhir pertengahan abad sembilan belas masehi Barat menyadari, bahwa straregi Kristenisasi telah gagal dan terpaksa
menukar strategi baru. Sarjana Perancis-A. Le Chatelier mengusulkan supaya dasar-dasar dan konsepsi Islam bagi umat
Islam harus dirusak dengan cara memperopagandakan ide-ide Barat dengan memilih strategi pendidikan atau pelajaran.
Barat menyadari,menguasai bidang pendidikan ini termasuk bidang kehidupan masyarakat yang paling penting bagi masa depan
suatu bangsa. Hal ini terbukti dari ungkapan William Hunter pada tahun 1871: Kita mesti berusaha mendidik remaja-remaja
Muslim mengikut rencana kita. Tanpa mengganggu agama mereka dan di dalam proses mereka mempelajari tugas-tugas keagamaan,
kita patut menjadikan amalan agama mereka itu sekurang-kurangnya kurang ikhlas dan yang pasti tidak terlalu fanatik.
Dari ungkapan di atas dapat difahami, ternyata Barat ingin menjadikan pendidikan sebagai alat yang paling ampuh dan efektif
untuk mengindoktrinasi daerah jajahannya, khusunya masyarakat Islam, supaya boleh mengubah pemikiran, intelek, akhlak dan
kepribadian mereka menjadi seperti Barat. Sebagai bukti lembaga-lembaga pendidikan yang pernah dikelola oleh pemerintah
Belanda di Indonesia melahirkan golongan intelektual yang memuja Barat dan menyudutkan tradisi nenek moyangnya serta kurang
menghargai Islam, agama yang dipeluknya.
Strategi ini sama dengan strategi Inggris ketika menjajah India, hal ini terbukti dari ungkapan Lord Marcaulay:
"Kita harus berusaha sedapat mungkin untuk membentuk satu golongan yang menjadi perantaraan antara kita dengan jutaan
rakyat peribumi yang kita perintah, segolongan orang yang masih India kulit dan darahnya tetapi telah diinggriskan
citarasa, pemikiran, moral dan intelektualnya.
Di dalam sistem pendidikan Liberal-Sekular ini yang diutamakan adalah rasionalisme dan saintifik yang menekankan tumpuan
zaman sekarang dan hal-hal yang bersifat duniawi. Sementara agama pula dianggap sebagai hal yang kurang diperlukan karena
ia sering berbicara tentang hari kemudian yang keberadaannya masih mereka ragukan. Sistem pendidikan ini melahirkan
dualisme atau penduaan di mana dunia dan agama itu saling terasing yang berkesudahan dengan pemisahan kehidupan dunia
dari agama. Agama makin lama menjadi semakin tersisih dari kehidupan, menumpang bila perlu dikuburkan sama sekali.
Hasil daripada pelaksanaan dan perkembangan sistem pendidikan Liberal-Sekular telah berhasil menjadikan pegangan umat
Islam terhadap agamanya luntur dan akidah menjadi lemah. Sesungguhnya tujuan yang direncanakan oleh pihak penjajah telah
mencapai kejayaan yang sangat besar. Profesor Syed Muhammad Naguib Al-Attas berkomentar: "Deislamisasi ialah masuknya
konsep-konsep asing dalam pemikiran umat Islam yang menetap dan seterusnya mempengaruhi pemikiran dan tingkah lakunya".
Selanjutnya beliau menambahkan: "Penerapan ciri-ciri asasi 'world-view' Barat dan pengukuhannya di dalam pemikiran Muslim
berlangsung pelan-pelan melalui sistem pendidikan yang berasaskan kepada konsep pengetahuan dan prinsip-prinsipnya yang
akhirnya akan membawa kepada deislamisasi di dalam pemikiran Muslim". Muhammad Qutb menjelaskan: "Pengajaran agama
telah mengecut kepada kadar helaian-helaian teks yang kecil untuk dihapal dan diuji pada setiap semester.
Pengajaran agama yang lebih ditekankan adalah aspek kognitifnya, kepada murid-murid dikehendaki menghapal dan mengemukakan
hasil hapalannya itu pada waktu ujian dilaksanakan. Sementara aspek afektif, amali dan penghayatannya, terbiar dan tidak
dititikberatkan. Akibatnya pendidikan agama yang tersepit hanya berfungsi memenuhi ruang yang sempit yang disediakan.
Dengan demikian dapatlah diketahui, ternyata umat Islam yang terjajah secara pelan-pelan telah mengenepikan sistem
pendidikan Islam, dan kini Barat telah berhasil merubah pemikiran, mereka dari Islam kepada Barat. Mereka telah menjadi
Barat, yang tidak berubah hanya warna kulit mereka.
Penutup
Menjadi tanggungjawab kita untuk menyingkirkan belenggu penjajah yang masih saja kita warisi dan alangkah baiknya jika
kita mau merenungkan syair Muhammad Iqbal, filosof dan penyair Muslim yang terkenal; "Sudah lama kita menari di sekeliling
dian (api) dan mengharapkan cahaya dari orang lain, maka kini sudah tiba saatnya kita memasang dian (api) dan mendapatkan
cahaya kita sendiri".
Penulis. DR. H. KASMURI SELAMAT, MA.
Dosen STIE Syariah Bengkalis