Firman Allah swt: "Berpegang teguhlah kamu kepada tali Agama Allah (Islam) dan janganlah kamu bercerai berai. Ingatlah nikmat Allah swt
atasmu ketika kamu bermusuh-musuhan lalu dilunakkan hati-hatimu, lalu jadilah kamu berkat nikmatnya itu bersaudara
sedangkan kamu pada waktu itu sedang berada di tetapi jurang api neraka, lalu Allah selamatkan kamu dari padanya.
Demikianlah Allah swt menjelaskan ayat-ayatNya supaya mendapat petunjuk." (Q.S. Ali Imran: 103)
Agama Islam menjadi pegangan yang kukuh bangsa Melayu. Menjalar dalam alur nadi setiap individu ketika pertama kali
diperkenalkan dalam kehidupan mereka. Cahaya tauhid dengan mudah memancar dalam kalbu, karena ia sesuai dengan fitrah
keinsanan bangsa ini. Islam sebagai teras atau pondasi kemelayuan, jika nilainya telah hakis maka tidaklah dikatakan orang
tersebut sebagai orang Melayu.
Disebabkan nilai Islam telah mengajarkan kepada umatnya agar menghormati anutan orang lain, maka orang Melayu terpanggil
memenuhi seruan tersebut. Terjadilah hubungan harmoni antara sesama umat Islam yang berbudaya Melayu dengan berbagai
penganut agama lain. Walaupun begitu di antara penganut agama lain memberi label bahwa umat Islam adalah sebagai pengganas.
Kurangnya pemahaman penganut agama lain terhadap Islam menyebabkan mereka memandang Islam dengan kacamata kebencian. Masih
timbul tudingan keliru kepada umat Islam dan ajarannya. Jika tudingan ini tidak dihentikan dengan jiwa dan fikiran jernih,
maka akan memusnahkan rasa saling percaya antara umat di dunia Melayu ini. Jika kepercayaan antara umat telah musnah, maka
kehancuran akan datang secara tiba-tiba.
Kepercayaan antara individu, antara penganut merupakan sendi mengukuhkan kedamaian umat. Jika sendi ini telah dikoyak
dengan kebencian dan kecurigaan maka benih kebencian itu telah ditabur dalam segenap jiwa. Dalam ajaran Islam tidak pernah
mengajarkan kepada penganutnya kebencian kepada orang lain, bahkan Islam menganjurkan sikap toleransi (tidak mengganggu cara
ibadah orang lain) dalam berhubungan dengan orang bukan beragama Islam.
Pernah terjadi suatu peristiwa pada zaman sahabat Rasulullah SAW. yaitu pada zaman Khalifah Umar Ibnul Khattab. Ketika itu
seorang Yahudi mengadu kepada Khalifah Umar bahwa pemimpin Islam di daerahnya telah merampas rumah dan tanahnya untuk
mendirikan sebuah masjid. Maka Khalifah Umar menyuruh orang Yahudi itu mengambil sepotong tulang Hewan.
Ketika mencari tulang itu, didalam fikiran si Yahudi timbul kebingungan dan seribu pertanyaan bahkan menuduh Khalifah Umar
sebagai pemimpin Islam yang tidak normal. Setelah tulang itu diserahkan, Khalifah Umar melakar dengan pedangnya satu garisan
tegak dan satu garisan melintang di penghujung garis tegak itu. Kemudian Khalifah Umar menyuruh si Yahudi tersebut
menyerahkan tulang itu kepada penguasa Islam yang berada di tempatnya.
Disepanjang perjalanan, si Yahudi tadi kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar. Ia coba berfikir dan
menganalisa, tetapi mindanya tidak mampu menjangkau. Namun walaubagaimanapun ketika sampai, Yahudi itu menyerahkan tulang
tadi kepada penguasa Islam tersebut. Setelah pemimpin Islam itu mengetahui bahwa tulang itu adalah perutusan dari Khalifah
Umar, maka ia gemetar ketakutan sehingga menyebabkan Yahudi tadi merasa heran dan ingin mengetahui hakikat dan falsafah
perutusan yang dibawanya itu.
Pemimpin Islam itu menerangkan falsafah tersirat disebalik semuanya itu. Tulang yang berada ditangannya itu memiliki makna
bahwa seorang pemimpin Islam harus bersifat mulia bukan bersifat zalim. Artinya jangan merampas hak orang lain dengan cara
tidak benar sehingga habis sampai ke akar-akarnya (diibaratkan dengan daging hidangan dimakan seluruh isinya yang tinggal
hanya tulang).
Garis tegak itu menganjurkan agar aku menjalankan Islam dengan sebenarnya dengan tidak mengambil hak orang lain meskipun
untuk mendirikan sebuah masjid. Sedangkan garis melintang itu adalah hukum yang memberi makna yaitu jika aku tidak
menegakkan ajaran Islam secara benar, maka leherku akan dipancung.
Khalifah Umar melakar garis-garis tersebut dengan menggunakan pedang yang memberi makna bahwa perintah dan anjuran itu
merupakan amaran paling keras jika tidak dijalankan dengan betul. Dari peristiwa ini menunjukkan betapa ajaran Islam
menghargai dan menghormati orang yang bukan Islam. Disebabkan ketinggian nilai Islam di mata orang Yahudi tersebut
akhirnya ia memeluk agama Islam. Bahkan seluruh tanah dan rumahnya diserahkan sebagai tapak mendirikan masjid.
Semua yang dilakukan pemimpin Islam, memiliki makna dan falsafah dalam menegakkan keadilan. Tulang mempunyai makna
nilai-nilai kemanusiaan yang harus dihargai oleh setiap insan. Garis tegak memiliki makna keadilan dalam menegakkan
undang-undang oleh penguasa. Garis melintang bermakna hukuman bagi orang yang tidak menjalankan syariat (undang-undang)
Islam, sedangkan pedang merupakan amaran atau peringatan bagi setiap individu yang menyeleweng dalam menegakkan
keadilan. Begitulah bukti kemurnian dalam kepemimpinan Islam. Jika pemerintah atau penguasa Islam di suatu daerah,
terdiri dari rakyat Islam dan bukan Islam tidak dapat menjalankan keadilan dengan betul, maka pemimpin yang paling atas
dengan segera akan menegurnya.
Islam memang hanya menganjurkan kebenaran, sedangkan kejahatan dan kebatilan bukanlah anjurannya, melainkan kekufuran
dan keingkaran umat. Begitu juga halnya dengan agama dan ajaran lain yang juga memiliki penganut yang taat dan ingkar.
Meskikah kita menyalahkan syariat hanya dengan kesalahan segelintir umat. Tentu saja tidak. Meskikah harus melihat penganut
ajaran Islam itu dengan kebencian hanya karena kesalahan yang dilakukan oleh segelintir orang berdosa.
Begitu juga halnya dengan ajaran agama Kristen, meskikah orang Islam menyalahkan ajaran Kristen yang dibawa oleh Nabi
Isa AS. yang semulanya memang benar, akhirnya diselewengkan oleh penganutnya sesudah kewafatannya. Umat Islam hanya
meyakini Kristen sebagai agama samawi yang dibawa oleh Nabi Isa. Namun tidak meyakini dengan perubahan yang dibuat oleh
orang sesudah beliau. Pun begitu Islam tidak menganjurkan permusuhan dan kebencian kendatipun dengan penganut agama
Kristen yang telah dirubah sekarang ini, termasuk juga dengan agama-agama yang lainnya.
Bangsa Melayu yang telah berakar nilai kebenaran Islam dalam diri mereka dengan mudah merefleksi konsep toleransi dalam
kehidupan beragama. Meskipun ada diantara Dunia Melayu yang masih sensitif masalah etnik dan toleransi beragama, namun
perkara itu terjadi lantaran dipengaruhi oleh kesan-kesan penjajahan masa silam.
Hari ini bangsa Melayu yang mayoritas memeluk Islam, optimis bahwa agama yang dianutnya akan mampu memupuk hubungan
harmoni antara penganut lain di dunia ini, dengan tidak mengabaikan sedikitpun nilai akidah di dalam jiwanya.
Penulis. Drs. Mhd. Isa Selamat, MA.
Dosen STIE Syariah Bengkalis