DALAM menjalani kehidupan, kekayaan akan ilmu pengetahuan mempunyai arti yang sangat penting. Seorang pemimpin tidak
memiliki ilmu maka ia akan menjadi pemimpin yang kaku akan kebijakan yang ia tetapkan di tempatnya. Pendidik,
katakanlah guru, yang hanya dibekali ilmu pengetahuan mengajar pada sepuluh tahun silam dan ilmu tersebut tidak pernah
berkembang selama kurun waktu yang ia lalui. Tergolonglah ia guru yang ketinggalan zaman dan muridnya enggan untuk belajar
kepadanya.
Kebutuhan Ilmu dalam hidup adalah suatu keharusan. Orang yang kurang ilmu, biasanya sering merasa minder (kurang mampu),
pesimis dalam berjuang, jiwa yang rapuh. Individu seperti ini sasaran yang empuk bagi masuknya pengaruh yang dapat
menghancurkan kehidupan dan merusak lingkungan. Begitu banyak prilaku-prilaku immoral kita jumpai, mulai dari seorang
ayah tiri memperkosa anak tirinya sampai pada bocah yang belasan tahun melakukan sodomi pada lelaki sebayanya dan hal
lain yang kurang bisa diterima oleh akal kita. Tapi semua peristiwa tersebut ada dan selalu muncul dalam kisah yang berbeda
pula.
Seperti kisah seorang anak kandung dengan teganya menghujam sebilah pisau keperut perempuan tua yang selama sembilan bulan
memberikan kasih sayang dan segala pengorbanan ia lakukan, sampailah tangisan anak laki-laki bergema disisi perempuan tua
tersebut. Ia besarkan si anak dengan tetesan air mata dan keringat hingga ia dewasa. Karena berkembang pesatnya kehidupan,
si perempuan tua tidak mampu lagi memenuhi permintan anak yang sudah mengenal kerasnya lingkungan tersebut, untuk dibekali
uang agar ia bisa setara dengan teman ditempat ia berkumpul.
Perempuan tua itu tak berani melepaskan simpanan yang ia kumpulkan hari demi hari untuk kebutuhan mendesak kelak. Oleh anak
yang tidak memiliki ilmu agama dan pengetahuan tersebut mulai kalut dengan tingkah ibunya yang ia rasa tidak lagi
menyayanginya lagi. Dan dalam benak pikirannya hanya uang dan uang, dengan emosi tanpa berpikir ia mengambil sebilah pisau
untuk menakutkan sang Ibu, namun sang Ibu tetap mempertahankan harta jerih payah yang ia kumpulkan tersebut. Tanpa disadari
si anak merasa ia ditantang dan akhirnya pisau ditangan tidak terasa telah menembus tempat kedap dan gelap yang pernah ia
tinggal selama sembilan bulan.
Peristiwa tersebut mengambarkan titik kelemahan jiwa karena tidak punya ilmu Allah. Semua ia lalui atas dasar nafsu belaka,
maka syaitanlah yang menikmati kegembiraan atas ketololan manusia itu. Sudah barang tentu Neraka jahanam tempat si anak
yang begitu bernafsu dalam merampas harta orang tuanya. Serta ia telah mengahabiskan nyawa sang Ibu, yang begitu tulus
pengorbanan untuk anak tercinta. Allah swt sangat adil dalam memberi hukuman serta mengetahui prilaku hambaNya yang
sebenarnya.
Sesungguhnya Ilmu merupakan harta yang tak terhingga yang diberikan Allah kepada manusia. Bagi hamba Nya yang memiliki
Ilmu dan Iman, maka Allah tinggikan derajatnya, seperti firman Allah swt dalam surah Al-Mujadilah: ayat 11: "...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dan Allah
Mengetahui apa yang kamu kerjakan".
Orang yang berilmu dan beriman sudah menjadi ketentuan akan derajat yang diberikan oleh Allah swt, rugilah mereka yang
tidak ingin menuntut ilmu dan memperkokoh iman.
Dalam Islam, perkembangan Ilmu pengetahuan sangat pesat pada zaman dahulu. Zaman Rasulullah telah dikemukakan penting
akan ilmu, karena ilmu dipandang sebagai suatu yang mulia dan harus dimiliki oleh umat Islam. Banyak hadist Rasulullah
berkaitan akan ilmu, diantaranya: "Barangsiapa yang belajar satu bab ilmu, dia amalkan ilmu itu atau tidak diamalkan, maka dia lebih utama daripada
shalat sunat seribu rakaat." (Al Hadist)
Ilmu adalah kunci keberhasilan dalam bernegara, berumahtangga dan beribadah. Dalam sejarah Islam, banyak sekali ilmuan
Islam yang telah lahir sebagai sarjana Islam, seperti halnya dalam bidang agama dan umum, yakni Iman Syafii, Hanafi,
Hambali dan Imam Malik. Dan mereka telah dikenal sebagai pendiri empat madzhab dalam bidang hukum. Dalam bidang Tauhid
kita kenal pula dengan Abu Hasan Al Asyari dan Abu Mansur Al Maturidi, bidang ilmu pengetahuan kita kenal ulama Abdul
Qasim, seorang ahli bedah dari Cordova yang mengarang kitab At Tafsir 30 jilid. Ar Razi, seorang ahli kedokteran, Al
Khawarizmi ahli dalam ilmu pasti dan astronomi, Ibnu Hayyan ahli dalam ilmu kimia. Ibnu khaldun seorang ahli dalam
sejarah, Ibnu Rusy (Averus) seorang yang ahli dalam bidang filosofi Islam yang sangat berpengaruh didunia Eropa dan
dunia Kristen, dan Jabar Al Isbili yang menemukan angka 1 sampai 9 dan 0 (nol), yang kita kenal dengan ilmu al jabar.
Ada dua ilmu yang patut kita tekuni berdasarkan Kitab Talimul Mutaallim, yaitu:
Pertama, adalah Ilmu Haal, artinya ilmu yang seketika harus kita gunakan dan amalkan bila sampai baligh.
Seperti Ilmu Figh dan Ilmu Tauhid, dimana Ilmu Figh berkisar pada ubudiyah dan muamalah. Dalam bidang ubudiyah mencakup
cara shalat beserta rukunnya, cara berwudu mengenal barang-barang riba dan seterusnya smapai sempurna muamalah. Kemudian
Ilmu Tauhid meliputi ke Esaan Allah beserta sifat-sifatnya yang wajib dan muhal, kepercayaan kepada malaikat dan
kitab-kitab Allah, para rasul, hari kiamat dan kepastian baik dan buruk dari Allah.
Kedua, adalah Ilmu Ghairil Haal, artinya ilmu yang berfungsi sebagai kelangkapan hidup. Misalnya Ilmu
kedokteran, Ilmu kemasyarakatan dan ilmu-ilmu lain yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Ilmu ghairil haal merupakan
penerapan ilmu tambahan dan bagi orang tua hendaklah menekankan pemahaman tentang Ilmu Haal terlebih dahulu. Pembinaan
kepribadiaan akan lebih baik jika mengikuti dan mendalami Ilmu Haal secara sempurna. Karena Ilmu Haal terfokus pada
pembangunan aqidah dan tata cara menetralisir emosional dan nafsu. Sehingga gejolak dan rintangan apapun yang kita
peroleh dalam mendalami kehidupan dan memantapkan ilmu Ghairil Haal, akan terasa lebih mudah dan terasa menikmati akan
karunia ilmu yang lain.
Jika penerapan secara kebalikan dari diatas, maka bermunculan sarjana-sarjana yang angkuh dan tidak peduli dengan
lingkungan. Bila ia seorang pemimpin, ia akan menjadi pemimpin yang rakus, kejam dan tidak memperdulikan kaum yang
tertindas. Sifat keduniawian lebih menonjol pada dirinya dibanding sifat-sifat yang arif dan bijaksana. Pada umumnya
kepribadian dan jiwa mereka lemah dan mudah roboh apabila badai kehidupan melanda.
Dengan rahmat dan karunia Illahi kita dibesarkan dengan ilmuNya, sehingga iman yang terpatri di jiwa semakin kuat.
Akibat perkembangan ilmu pengetahuan yang kita miliki, kita akan menjadi lebih matang dan arif dari segala perbuatan dan
tutur kata. Orang yang berilmu adalah orang yang mengerti akan makna hidup secara tersirat dan tersurat. Seperti yang
dikatakan Rasulullah dalam Hadistnya: "Akan datang pada kaum (orang-orang menuntut ilmu). Apabila kalian melihat mereka, maka katakanlah kepada mereka:
"selamatlah dengan wasiat-wasiat (pesan) Rasulullah saw dan berilah fatwa mereka". (HR. Ibnu Majah)
Marilah kita berbondong-bondong mencari ilmu sampai pada batasan yang telah ditentukan Allah kelak.
Penulis. Amir Syahrudin, SS.
Dosen STIE Syariah Bengkalis