Pernyataan Menkeu Sri Mulyani Indrawati sungguh mengejutkan. Beliau mengatakan kondisi perekonomian Indonesia saat ini mirip seperti keadaan menjelang krisis. Berbagai tanggapan, diskusi dan analisa langsung di gelar. Ada yang sependapat dengan pernyataan Menkeu tersebut dan tidak sedikit yang menolak pernyataan tersebut.
Inilah ilmu ekonomi. Dunia ramal meramal (dalam lingkup keilmuan). Namanya juga meramal, hasilnya tentu tidak dapat dipastikan sekarang. Seperti seorang paranormal meramal kehidupan artis, jika ramalannya benar maka ia akan berkata, "Tuh, benarkan kata saya!". Jika ramalan tersebut tidak tepat maka dia akan mempunyai seribu alasan untuk membela diri. Hal senada juga dikatakan oleh Prof . Paul Omerald dalam buku The Dead of economics, ia mengatakakan, "Jika dikumpulkan 5 orang ekonom untuk dimintai pendapatnya tentang suatu masalah ekonomi maka akan ada 10 jawaban". Sekali lagi inilah ilmu ekonomi.
Apakah ini salah? Tidak juga. Dunia memang sebuah ketidakpastian. Kehidupan manusia sangat dinamis begitu pula ekonomi. Hakiki adalah sifat Sang Khalik, bukan sifat kita sebagai manusia.
Kembali kepada pernyataan Menkeu tentang keadaan krisis dan para ekonom yang menolak penyataan tersebut, siapa yang harus kita percaya? Jika pernyataan mereka tidak berpengaruh terhadap kehidupan kita maka tidak perlu kita hiraukan. Masalahnya adalah pernyataan Menkeu ini telah membuat Harga Indek Saham Gabungan (IHSG) rontok dan nilai kurs rupiah kembali melemah. Bangsa ini pernah trauma dengan perkataan krisis. Belum lagi trauma tersebut terkikis habis sekarang telah mengema kembali. Tentu saja pernyataan Menkeu ini membuat masyarakat Indonesia kembali panik.
Untuk percaya dan tidak percaya pernyataan tersebut, mari kita lihat indikator perkembangan makro dan mikro perekonomian Indonesia sekarang. Lalu kita bandingkan dengan keadaan krisis ekonomi tahun 1997 agar kita dapat melihat persamaan dan perbedaan kondisi tersebut. Selanjutnya baru kita bicara tentang ramalan ekonomi.
Indikator Makro dan Mikro Ekonomi Indonesia
Menurut data yang dikeluarkan Bank Indonesia, cadangan devisa Indonesia mencapai 51 miliar USD pada tahun 2007 ini dibandingkan jumlah cadangan devisa sekitar 21,5 miliar USD pada tahun 1997. Ini berarti terjadi kenaikan cadangan devisa sebesar 29,5 miliar USD selama 10 tahun terakhir. Hutang luar negri Indonesia sebesar 128,9 miliar USD pada krisis ekonomi pada tahun 1997 dan pada tahun 2007 ini hutang luar negri Indonesia sebesar 140 miliar USD. Hal ini menunjukkan terjadi pengurangan hutang luar negri Indonesia kurang lebih sebesar 11 miliar USD.
Berikutnya, defisit transaksi berjalan untuk tahun fiscal 1997 sebesar 8,7 miliar USD dan sebaliknya tahun 2006/2007 terjadi surplus transaksi berjalan mencapai 9,6 miliar USD. Pertumbuhan ekonomi pula pada medio 1997 sebesar 7 persen hingga Indonesia termasuk dalam macan ekonomi Asia tetapi terjun bebas menjadi minus 6,21 persen saat terjadi krisis. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akhir 2006 sebesar 5,5 persen.
Nilai tukar kurs Indonesia dari Rp 2.000/USD tahun 1997 merosot menjadi Rp 14.000/USD hanya dalam beberapa minggu saja. Sedangkan pada tahun 2007 nilai tukar kurs berada di kisaran Rp 9.000/USD dan terus mengguat menjadi Rp 8.700/USD. Terakhir, pada tahun 1997 terjadi capital outflow (aliran dana keluar) sebesar 35-40 miliar USD. Sebaliknya sampai kuartal pertama tahun 2007 ini terjadi capital inflow (aliran dana masuk) di Indosesia sebesar 1 miliar USD.
Melihat data-data indicator makro dan mikro di atas wajar jika Wapres dan para ekonom BI mengatakan bahwa penomena keadaan krisis ekonomi seperti yang dilontarkan Menkeu jauh pangang dari api alias tidak mungkin karena hampir seluruh indikator ekonomi berada dalam tren yang positif.
Sejarah Krisis Ekonomi
Jika hampir seluruh data makro dan mikro perekonomian menunjukkan indikator yang positif mengapa Menkue berani mengeluarkan pernyataan bahwa keadaan perekonomian Indonesia ini mirip dengan keadaan menjelang krisis?
Menginggat kembali sejarah awal terjadinya krisis di Asia 1997, diawali dengan fluktuatifnya nilai kurs mata uang Thailand (bath Thailand). Fluktuasi kurs mata uang ini mempunyai efek domino terhadap kawasan regional. Makanya awal krisis tersebut di sebut krisis moneter bukan krisis ekonomi. Indonesia juga kena getahnya dan yang paling parah krisis moneter ini berlanjut pada krisis ekonomi dan lebih besar lagi menjadi krisis multi-dimensional.
Sejarah juga mencatat terdapat capital outflow yang besar pada tahun 2007. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab krisis moneter ketika itu. Sekarang terjadi capital inflow yang disebabkan stagnan perekonomian Negara Amerika dan Eropa sehingga Negara-negara tersebut melarikan likuditas dana ke Negara-negara Asia. Timur tengah juga sedang mengalami booming minyak yang mencari pasar untuk menyerap likuiditas tersebut. Mungkin dalam pengamatan Menkeu baik capital outflow dan capital inflow hakikatnya adalah sama. Inti dari permasalahan adalah semua dana yang masuk ke Indonesia melalui pasar keuangan yang sangat rentan resiko. Dan lebih riskan lagi dana-dana ini milik asing yang selalu profit oriented dalam berinvestasi. Tidak mungkin mengharapkan idealisme apalagi nasionalisme kepada mereka.
Jika pemain pasar keuangan yang mayoritas asing secara tiba-tiba (atau memang sebuah strategi) menarik dana yang masuk tersebut maka akan terjadi goncangan dalam perekonomian Indonesia. Nilai kurs rupiah dapat dipastikan akan bergejolak kembali. Kondisi perekonomian Indonesia sedang dalam keadaan yang tidak seimbang antara pasar keuangan dan sektor riil. Besarnya aliran dana yang masuk tidak di ikuti oleh pertumbuhan sektor riil yang baik pula.
Padahal keadaan ini sudah diterangkan ratusan abad yang lalu oleh ekonom Muslim Ibnu Khaldun yang mengatakan bahwa kekayaan suatu negara tidak ditentukan oleh banyaknya uang beredar di suatu negara, akan tetapi kekayaan suatu Negara dapat dilihat dari perkembangan tingkat produksi dan neraca pembayaran positif. Dalam bahasa sederhana beliau mengatakan bahwa kekuatan perekonomian yang kokoh dapat di lihat dari perkembangan sektor riil bukan dari sektor keuangannya.
Begitu pula dengan fluktuatif yang cepat dari kurs mata uang Indonesia. Meskipun BI telah menetapkan batas aman bagi nilai kurs rupiah di tingkat RP 9.500 – Rp 8.500 (dari survey eksportir dan importir) akan tetapi tidak ada yang bisa menahan gejolak ini kerena dana yang masuk dari para investor asing.
Fluktuatif nilai tukar ini juga diingatkan oleh ekonomi muslim Imam al-Ghazali dahulu. Sekarang mata uang telah diperjual-belikan sebagaimana yang terlihat dalam perekonomian moderen. Padahal Imam al-Ghazali pernah mengatakan memperdagangkan uang ibarat memenjarakan fungsi uang. Jika uang banyak diperdagangkan, niscaya tinggal sedikit uang yang dapat berfungsi sebagai uang. Dalam bahasa yang sederhana Imam Ghazali mengatakan tidak benar tindakan memperdagangan uang yang akan menyebabkan fluktuasi kurs. Fluktuasi kurs dapat menyebabkan kekacauan perekonomian.
Posisi Perekonomian Indonesia
Menilik dari gejala-gejala yang ada dalam perekonomian Indonesia saat ini maka kita juga harus bersepakat bahwa kemungkinan krisis ekonomi di Indonesia dapat terjadi seperti yang diramalkan oleh Menkeu. Perekonomian kita tidak ditopang dengan perkembangan sektor riil dan keuangan yang berimbang.
Telah berkali-kali penulis dalam berbagai kesempatan mengingatkan kepada lembaga keuangan dan bank untuk mewaspadai hal ini. Alasan peraturan dan ketakutan terhadap pelangaran peraturan menjadi alasan klasik kenapa sampai sekarang lambatnya sector riil bergerak. Padahal jika kita berjalan di rel yang benar kenapa harus takut.
Satu hal lagi yang perlu di ingat adalah kekuatan cadangan devisa Negara. Indonesia bukan China. Seberapa kuat Indonesia dapat menahan krisis dengan mengandalkan cadangan devisa yang hanya 51 miliar USD dibandingkan China dengan cadangan devisa sebesar 1 triliun USD. Jelas ini tidak dapat dijadikan alasan mengatakan perekonomian kita yang kokoh menurut sebahagian ekonom.
Paling tidak dengan pernyataan Menkeu tersebut kita menjadi sadar dan harus berhati-hati dalam mengatur kebijakan perekonomian Indonesia. Apalagi Jonh Parkins (seorang pelaku ekonomi) dalam bukunya confession of economic hit man telah membuka mata kita bagaimana cara yang dilakukan Negara-negara maju untuk terus mengerogoti Negara berkembang dan terbelakang demi kepentingan perekonomian mereka. Salah satu cara adalah dengan memberikan hutang untuk mendapatkan jatah sumber daya alam yang melimpah. Untuk kondisi sekarang, cara yang paling mutakhir untuk mengoyang perekonomian Negara-negara tertentu adalah dengan cara masuk ke pasar-pasar keuangan melalui pembelian saham, obligasi dan sejenisnya.
Mudah-mudahan ini menjadi pemikiran kita bersama agar krisis ekonomi yang dapat menyengsarakan rakyat Indonesia tidak terulang kembali seperti 10 tahun yang lalu. Krisis ekonomi jilid II (jilid I pun belum selesai) seperti yang diramalkan Menkeu dapat menjadi acuan kita dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi yang lebih bijak demi terujudnya kekuatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Penulis. Deny Setiawan, SE, M.Ec.
Dosen STIE Syariah Bengkalis
E-mail: deny_2109@yahoo.com