JAKARTA - Al Ijarah Finance Indonesia (ALIF) menargetkan pengoperasian perusahaan manajemen investasi joint venture dengan National Bond Corporation Uni Emirat Arab dan Bank Muamalat paling cepat pertengahan tahun depan. "Saat ini kami masih dalam proses seleksi konsultan," kata Direktur ALIF, Farouk A Alwyni, kepada Republika, Senin (1/12).
Setidaknya ada tiga konsultan yang ikut dalam seleksi, yaitu Ernst dan Young, Lloyd, dan Grand Thornton. Untuk hasilnya baru akan terpilih di akhir pekan ini. Ketiga konsultan tersebut memiliki penawaran antara 60 ribu dolar hingga 180 ribu dolar AS. Setelah konsultan sudah ditetapkan, Farouk memperkirakan konsultan dapat mulai membuat perencanaan di awal Januari 2009. Farouk pun mengharapkan dalam waktu tiga bulan konsultan yang terpilih sudah memiliki rekomendasi untuk perusahaan manajemen investasi baru dengan modal awal 50 juta dolar AS ini.
Dengan demikian, perusahaan dapat mulai beroperasi di bulan Juni atau Juli 2009. "Dari rekomendasi tersebut nantinya kita siap mengadaptasi kebutuhan publik, sesuai dengan kebutuhan pasar," kata Farouk. Manajemen investasi perusahaan fokus di sektor infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Untuk persentase modal awal, Farouk menyatakan mayoritas akan dipegang oleh National Bond Corporation.
Meski di tengah krisis ekonomi global yang terjadi namun diharapkan hal tersebut tidak terlalu mempengaruhi joint venture. Penandatanganan nota kesepahaman joint venture ini sendiri telah dilakukan pada tiga bulan lalu. Saat ini ALIF pun fokus untuk menekan angka non performing finance (NPF) seminimal mungkin. Pasalnya, Alif berencana melakukan penambahan modal yang sampai saat ini belum diketahui jumlahnya. NPF Alif saat ini di bawah satu persen.
Pembiayaan yang disalurkan ALIF mencapai Rp 500 miliar di mana Rp 125 miliar di antaranya berasal dari dana internal ALIF, sementara sisanya berasal dari sindikasi dengan perusahaan lain. Pencapaian pembiayaan tersebut pun telah melebihi target tahun ini sebesar Rp 300 miliar. Dari total pembiayaan tersebut, masing-masing sebesar 30 persen di antaranya, digunakan untuk sektor transportasi dan manufaktur. Untuk 40 persen sisanya digunakan untuk kesehatan dan percetakan.
Pembiayaan yang dilakukan ALIF tahun ini meningkat pesat dibanding 2007 yang sebesar Rp 39,18 miliar hingga akhir tahun. Di 2007 sektor transportasi memiliki persentase tertinggi dalam pembiayaan yaitu sebesar 57 persen, sementara sisanya untuk sektor minyak dan gas, konstruksi, percetakan, dan pengolahan air. c67/yto
By Republika Newsroom
Kamis, 04 Desember 2008 pukul 08:38:00